Selasa, 01 Februari 2011

askep atelektasis


ASUHAN KEPERAWATAN ATELEKTASIS


logo stikes

Disusun oleh:
Sofyan ekoferdi hansyah






SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2010


BAB I
PENDAHULUAN


LATAR BELAKANG

Atelektasis berkenaan dengan kolaps dari bagian paru. Kolaps ini dapat meliputi subsegmen paru atau seluruh paru. Atelektasis dapat terjadi pada wanita atau pria dan dapat terjadi pada semua ras. Atelektasis lebih sering terjadi pada anak yang lebih muda daripada anak yang lebih tua dan remaja.
Stenosis dengan penyumbatan efektif dari suatu bronkus lobar mengakibatkan atelektasis (atau kolaps) dari suatu lobus, dan radiograf akan menunjukkan suatu bayangan yang homogen dengan tanda pengempisan lobus. Secara patologik, hampir selalu ada pula kelainan-kelainan lain di samping tidak adanya udara daripada lobus dan posisi yang disebabkannya daripada dinding-dinding alveolar dan bronkhiolar.

















BAB II
PEMBAHASAN

1.      DEFINISI

Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara ( bronkus maupun bronkiolus ) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal.

2.       ETIOLOGI

Penyebab dari atelektasis adalah :
  1. Obstruktif :
Sebab utama dari atelektasis adalah penyumbatan sebuah bronkus. Penyumbatan juga bisa terjadi pada saluran pernafasan yang lebih kecil. Penyumbatan bisa disebabkan oleh adanya gumpalan lendir, tumor atau benda asing yang terhisap ke dalam bronkus. Atau bronkus bisa tersumbat oleh sesuatu yang menekan dari luar, seperti tumor atau pembesaran kelenjar getah bening. Jika saluran pernafasan tersumbat, udara di dalam alveoli akan terserap ke dalam aliran darah sehingga alveoli akan menciut dan memadat. Jaringan paru-paru yang mengkerut biasanya terisi dengan sel darah, serum, lendir, dan kemudian akan mengalami infeksi.


IMAGE0106
 









  1. Non-obstruktif :
-  pasif  → pneumothorax, operasi
-  cicatrix   → perlekatan-perlekatan
-  adhesive  → RDS (Respiratory Distress Syndrome)
                          Pneumonitis radiasi, pneumonia, uremia.
-     kompresi    Pneumothorax, pleural effusion, tumor (4)

3.      PEMBAGIAN ATELEKTASI

Menurut luasnya atelektasis dibagi :
  1. Massive atelectase, mengenai satu paru
  2. Satu lobus, percabangan main bronchus
Gambaran khas yaitu tumor ganas bronkus dengan atelectase lobus superior paru.
  1. Satu segmen  → segmental atelectase
  2. Platelike atelectase, berbentuk garis
Misal : Fleischner line    oleh tumor paru
Bisa juga terjadi pada basal paru    post operatif (4)

4.      GEJALA KLINIS

Atelektasis dapat terjadi secara perlahan dan hanya menyebabkan sesak nafas yang ringan.
Gejalanya bisa berupa :
-         gangguan pernafasan
-         bunyi nafas berkurang
-         nyeri dada
-         batuk
-         pucat
-         cemas
-         sianosis
-         gelisah
-         takikardia
Jika disertai infeksi, bisa terjadi demam dan peningkatan denyut jantung, kadang-kadang sampai terjadi syok (tekanan darah sangat rendah).

  1. POHON MASALAH










Obstruktif ( penyempitan bronkus, adanya gumpalan lendir, tumor atau benda asing yang terhisap ke dalam bronkus).
 

Non obstruktif (pneumothorax, operasi, RDS, Pneumonitis radiasi, pneumonia, uremia, dll.).
 



 







Penyumbatan pada bronkus
 
Saluran nafas akan tersumbat

Udara dalam alveoli akan
Terserap ke dalam aliran darah
Gangguan pertukaran gas.
 
Alveoli akan menciut dan  memadat
 
                                                                 

















Jaringan paru-paru meningkat terisi dengan sel, darah, serum, sekret.
 

 


Sesak nafas
                                                                             





MK : Gangguan Pertukaran O2
 



 





                                                                 
                             
     



6.      PENGOBATAN

Tujuan pengobatan adalah mengeluarkan dahak dari paru-paru dan kembali mengembangkan jaringan paru yang terkena.
Tindakan yang biasa dilakukan :
-         Berbaring pada sisi paru-paru yang sehat sehingga paru-paru yang terkena kembali bisa mengembang
-         Menghilangkan penyumbatan, baik melalui bronkoskopi maupun prosedur lainnya
-         Latihan menarik nafas dalam ( spirometri insentif )
-         Perkusi (menepuk-nepuk) dada untuk mengencerkan dahak
-         Postural drainase
-         Antibiotik diberikan untuk semua infeksi
-         Pengobatan tumor atau keadaan lainnya
-         Pada kasus tertentu, jika infeksinya bersifat menetap atau berulang, menyulitkan atau menyebabkan perdarahan, maka biasanya bagian paru-paru yang terkena mungkin perlu diangkat
Setelah penyumbatan dihilangkan, secara bertahap biasanya paru-paru yang mengempis akan kembali mengembang, dengan atau tanpa pembentukan jaringan parut ataupun kerusakan lainnya.

7.      PENCEGAHAN

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya atelektasis :
-         Setelah menjalani pembedahan, penderita harus didorong untuk bernafas dalam, batuk teratur dan kembali melakukan aktivitas secepat mungkin.
Meskipun perokok memiliki resiko lebih besar, tetapi resiko ini bisa diturunkan dengan berhenti merokok dalam 6-8 minggu sebelum pembedahan.
-         Seseorang dengan kelainan dada atau keadaan neurologis yang menyebabkan pernafasan dangkal dalam jangka lama, mungkin akan lebih baik bila menggunakan alat bantu mekanis untuk membantu pernafasannya. Mesin ini akan menghasilkan tekanan terus-menerus ke paru-paru, sehingga meskipun pada akhir dari suatu pernafasan, saluran pernafasan tidak dapat menciut.
Kelainan-kelainan radiologik

Bilamana seluruh paru-paru mengempis, akan ada suatu bayangan homogen pada belah itu, dengan jantung dan trakhea beranjak ke jurusan itu dan diafragma terangkat. Bilamana hanya satu lobus yang atelaktasis disebabkan oleh penyumbatan bronkhial, mungkin kelihatan dua kelainan yang karakteristik. Kelainan pertama adalah suatu bayangan yang homogen daripada lobus yang kempis itu sendiri, yang akan menempati ruangan yang lebih kecil daripada bilamana ia berkembang sama sekali.
Suatu lobus kanan atas yang kempis akan kelihatan sebagai suatu daerah yang opak pada puncak, dengan batas tegas yang bersifat konkaf di bawahnya di dekat klavikula yaitu yang diakibatkan oleh fisura horizontalis yang terangkat.
Lobus kiri atas bilamana kempis biasanya mencakup lingula, dan bayangan yang diakibatkannya adalah lebih tidak tegas tanpa batas bawah yang tegas. Akan tetapi pada proyeksi lateral akan kelihatan suatu bayangan berbentuk lidah dengan puncaknya dekat diafragma; di sebelah anterior, ini mungkin sampai kepada sternum, atau mungkin dipisahkan oleh suatu daerah yang translusen yang disebabkan oleh paru-paru kanan yang menyelip diantaranya dan sternum di sebelah posterior bayangan itu mempunyai batas yang tegas dengan batas konkaf yang disebabkan oleh fisura besar yang terdesak ke depan.
Suatu lobus tengah akan menyebabkan suatu bayangan yang sangat tidak tegas pada proyeksi anterior, akan tetapi mungkin mengaburkan batas daripada jantung kanan, pada proyeksi lateral ia akan kelihatan sebagai suatu bayangan berbentuk pita yang membujur dari hilus ke angulus sterno-diafragmatikus. Batas atasnya yang tegas dibentuk oleh fisura horizontalis yang terdekat, sedangkan batas belakangnya yang konkaf oleh fisura mayor yang terdesak ke depan.
Lobus bawah yang kempis menyebabkan suatu bayangan berbentuk segitiga, dengan batas lateral yang tegas yang membujur ke bawah dan keluar dari daerah hilus ke diafragma. Oleh karena ia biasanya terletak di belakang bayangan jantung, ia hanya dapat dilihat bilamana radiograf adalah baik. Pada proyeksi lateral bayangan mungkin kabur sekali, akan tetapi biasanya kehadirannya memberikan tiga gambar; vertebrae torakalis di sebelah bawah akan kelihatan lebih berwarna abu-abu daripada hitam daripada vertebrae di sebelah tengah; bagian posterior daripada bayangan diafragma kiri akan tidak dapat dilihat; dan akhirnya, daerah vertebrae bawah di belakang bayangan jantung akan kurang hitam daripada daerah translusen di belakang sternum.
Gejala-gejala yang karakteristik lainnya adalah konsekuensi daripada bayangan-bayangan vaskuler menjadi kabur di dalam opasitas umum daripada lobus yang tidak mengandung udara, sedangkan bayangan pembuluh-pembuluh darah di dalam lobus yang lain adalah lebih memencar oleh karena ia mengisi suatu volume yang lebih besar. Pembuluh-pembuluh darah hilus pada sebelah yang terkena penyakit akan menunjukkan suatu konveksitas lateral dan bukan suatu konkafitas seperti dalam keadaan normal pada tempat dimana grup daripada lobus atas bertemu dengan arteria basalis di samping itu, hilus akan menjadi lebih kecil daripada di sebelah yang lain, sedangkan pembuluh-pembuluh darah paru-paru akan lebih memencar sehingga per unit daerah akan kelihatan lebih sedikit daripada di sebelah yang lain (normal).  Hanya akan ada sedikit atau sama sekali tidak ada translusensi yang relatif, oleh karena aliran kapiler bertambah besar, sedangkan pendesakan trakhea atau peninggian diafragma biasanya sedikit dan jantung beralih hanya sedikit ke jurusan lobus yang kempis yaitu pada kolaps daripada lobus bawah, atau yang lebih sering sama sekali tidak pada kolaps daripada lobus atas.
















GAMBAR-GAMBAR ATELEKTASIS

Kolaps Lobus Atas Kanan






Foto PA

Densitas uniform akibat lobus kanan yang kolaps dan mengkerut (panah).

Fisura interlobaris kanan bergeser ke atas ke arah mediastinum (panah lebar)

Hilus kanan terletak sama tinggi dengan hilus kiri, berarti letaknya meninggi.
 


IMAGE0108

 


















Foto Lateral

Lobus yang kolaps tidak terlihat. Ini akan membedakannya dengan pneumonia. Konsolidasi akan bisa dilihat dari kedua proyeksi tetapi kolaps mungkin hanya bisa dilihat dari satu proyeksi saja.


 


IMAGE0107

 
















Kolaps Lobus Medius Kanan











Terlihat densitas didekat jantung pada lapangan tengah dekat hilus. Bentuknya mirip segitiga. Bagian paru yang lain nampak bersih.

Foto PA

 



IMAGE0110




IMAGE0109

Foto Lateral

Kolaps lobus medius selalu lebih jelas terlihat pada proyeksi lateral, terutama pada anak-anak.

Terlihat densitas berbentuk segitiga dibagian depan, menunjukkan kolaps lobus medius (panah).

 

 
































Kolaps Lobus Bawah Kanan





Foto PA

Hipertranslusen pada lobus kanan atas, terjadi karena adanya peningkatan volume sebagai kompensasi.

Lobus bawah kanan kolaps ke arah jantung dan mediastinum (panah) dan menghilangkan sinus cardiophrenicus. Batas lateralnya tegas. Hilus kanan “menghilang” karena pembuluh darah paru pindah ke arah jantung sebagai akibat kolaps paru.

 


IMAGE0111

 















Kolaps Lobus Medius dan Lobus Bawah Kanan





Foto PA

Hipertranslusen lobus atas kanan (panah lebar).


Bila dibandingkan dengan kolaps lobus bawah kanan saja, densitas pada foto ini lebih luas dan batasnya kurang tegas.

 


IMAGE0112

 

















Kolaps Lobus Bawah Kiri








Foto PA

Terlihat pergeseran ringan jantung dan mediastinum ke kiri.

Hilus kiri turun dibawah hilus kanan (panah).

Terlihat penurunan corakan vaskular pada bagian paru kiri yang over-expanded (panah lebar). Lobus bawah yang kolaps tidak terlihat pada foto yang kurang keras ini (bandingkan dengan foto “keras” dibawah ini).

 


IMAGE0113

 



















Foto “keras” PA (Penderita yang sama)

Untuk mendapatkan hasil seperti ini, dipakai teknik dasar foto thorax PA tetapi mAs ditingkatkan 2 kali lipat.

Densitas berbentuk segitiga di belakang jantung adalah lobus bawah kiri yang kolaps (panah). Biasanya sulit untuk melihat lobus bawah yang kolaps pada foto lateral.

 


IMAGE0114

 















Kolaps Lobus Atas Kiri










Foto PA

Lobus atas kiri kolaps ke arah mediastinum (panah lebar).

Mediastinum sedikit bergeser kekiri : pada kiri pembuluh darah paru lebih tersebar dibandingkan pada sisi kanan, akibat adanya overinflasi pada sisa paru kiri sebagai kompensasi.

 


IMAGE0115




Foto lateral

Lobus atas kiri yang kolaps sulit untuk diidentifikasikan karena kolapsnya ke arah mediastinum. Hanya terlihat tepi belakangnya saja (panah).

 



IMAGE0116

 
































ASUHAN KEPERAWATAN

  1. PENGKAJIAN

1.      Indentitas
Nama,
Umur, terjadi pada bayi yang baru lahir, anak-anak atau pada usia tua
Jenis kelamin bisa terjadi pada pria dan wanita
Pekerjaan, biasanya terjadi pada orang yang bekerja pada daerah dengan polusi tinggi
2.      Keluhan utama
pada atelektasis keluhan utama yang dirasakan adalah
-         Sesak nafas
-         Nyeri dada
3.      Riwayat penyakit sekarang
Pasien merasakan sesak nafas, setelah beraktivitas dan merasakan nyeri dada pada bagian yang terkena atelektasis
4.      Riwayat penyakit keluarga
Pasien tidak mempunyai penyakit menurun
5.      Riwayat penyakit dahulu
Pada saat lahir pasien pernah mengalami kelainan yaitu setelah lahir belum sempat terjadi tangis yang pertama
6.      Riwayat psiko social
-         Pasien merasakan cemas karena mengalami nyeri
-         Pasien jarang berkomunikasi dengan lingkungan sekitar
7.      Pola aktivitas sehari-hari
-         Mobilisasi berkurang karena pasien sesak nafas jika pasien banyak melakukan aktivitas
-         Pola istirahat, tidur pasien menjadi berkurang atau tidak teratur
-         Pemasukan nutrisi dan cairan berkurang

                                                                                                                                        

B. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan thoraks yang cermat, yang mencakup inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi, seringkali menunjukkan diagnosis kelainan paru yang terjadi. Hasil pemeriksaan fisik pada atelektasis (obstruksi lobaris) yang sering ditemukan adalah :
v  Tanda-tanda vital
TD : hipertensi
S    : hipertermi >39°C
RR : dipsnea 30x/mnt
N   : takikardi 130x/mnt
v  Inspeksi        berkurangnya gerakan pada sisi yang sakit,
adanya sianosis pada bibir dan ujung jari
pasien terlihat pucat
v  Palpasi         fremitus berkurang, trakea dan jantung bergeser
v  Perkusi         batas jantung dan mediastinumm akan bergeser
letak diagfragma meninggi
v  Auskultasi →  suara nafas melemah,dan terdengar ronki
                                                               
C.     PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Rontgen dada
Menunjukan adanya daerah bebas udara di paru-paru
  1. CT scan
Menentukan penyebab terjadinya penyumbatan
  1. GDA
Untuk menunjukan derajat hipoksemia dan keadekuatan ventilasi alveolar







D.ANALISA DATA


Tgl
DATA
ETIOLOGI
MASALAH KEPERWATAN
-
Ds : keluarga px mengatakan bahwa px saat bernafas terdapat bunyi.
Do : - Bunyi nafas ronki
-         Bunyi  nafas px melemah
-         Frekwensi nafas px > 16x/menit

Akumulasi sekret pada bronkus


MK : Bersihan jalan nafas tidak efektif.

Bersihan jalan nafas tidak efektif.

-
Ds : keluarga px mengatakan px sesak saat bernafas.
Do : - Px terlihat lemah.
-         Bunyi nafas ronki
-         Bunyi nafas px melemah
-         Frejwensi nafas px > 16x/menit.
Sesak nafas



MK : Gangguan pertukaran O2
Gangguan pertukaran O2









E.DIAGNOSA

1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif
Dapat dihubungkan dengan Peningkatan  produksi sputum
Tujuan :
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam pasien menunjukan perilaku mencapai bersihan jalan nafas.
kriteria hasil:
Klien dapat mempertahankan jalan nafas secara efektif
intervensi:
MANDIRI
v  auskultasi bunyi nafas.catat adanya bunyi nafas ,misal: mengi ,ronki.
  R/beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obtruksi jalan nafas dan                                 terdapat nafas adventisius.
v  kaji frekwensi kedalaman  pernafasan dan gerakan dada
R/pernafasan dangkal dan gerakan dada tidak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan  gerakan dinding dada/cairan paru.
v  berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari ,kecuali kontra indikasi,tawarkan air hangat.
R/cairan (khususnya air hangat)memobilisasi
v  observasi warna kulit,membran mukosa,dan kuku
R/sianosis kuku menunjukan adanya vasokontruksi,sianosis membram mukosa dan kulit sekitar  mulut menunjukan hipoksemia sistemik
KOLABORASI
      Berikan obat sesuai indikasi
v  bronkodilator,mis :egonis :epinefrin (adrenalin ,vaponefrin )
            Xantin ,mis:aminofilin ,oxtrifilin.
             R/merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal
v  berikan humidikasi tambahan,mis:nebulizer ultranik,humidifier aerosol  ruangan
        R/kelembaban menurunkan kekentalan sekret dan mempermudah   pengeluaran  secret.
v  berikan pengobatan pernafasan ,mis ;fisioterapi dada
        R/drainase postural dan perkusi bagian penting untuk mengencerkan secret      .dan memperbaiki ventilasi pada segmen
             
2.      gangguan pertukaran gas
dapat dihubungkan dengan
-         perubahan membran alveolar –kapiler(efek inflamasi)
-         gangguan kapasitas pembawa oksigen
tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam pasien menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan
kriteria hasil:
pertukaran gas dapat dipertahankan
intervensi:
MANDIRI
v  kaji frekuensi kedalaman pernafasan .
R/untuk mengevaluasi derajat distres pernafasan pernafasan atau proses penyakit .
v  tinggikan kepala tempat tidur bantu pasien memilih posisi yang mudah untuk bernafas.dorong pasien untuk penafasan dalam atau nafas bibir.
R/pengiriman oksigen dapat di perbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas  untuk menurunkan kolaps jalan nafas.
v  Auskultasi bunyi nafas,cacat area penurunan aliran udara /bunyi tambahan ,(ronki,mengi,redup).
R/bunyi nafas mungkin redup karena penurunan aliran udara,adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus.
v  Palpasi fremitus (getaran vibrasi pada saat palpasi)
R/penurunan getaran fibrasi diduga ada pengumpulan cairan.

v  Evaluasi tingkat toleransi aktivitas.
R/selama distres pernafasan berat/akut ,pasien secara total tidak mampu melakukan aktivitas sehari – hari
v  Awasi tanda – tanda vital dan irama jantung.
R/takikardia dan perubahan tekanan darah yang dapat menunjukan adanya hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.

KOLABORASI
v  Awasi /gambaran seri GDA dan nadi
R/PaCO2 biasanya meningkat (bronchitis,emfisema)dan PaCO2 secara umum menurun ,sehingga terjadi hipoksia .
v  Berika oksigen tambahan sesuai degan indikasi hasil GDA dan  toleransi pasien .
R/memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia
v  Bantu intubasi ,berikan /pertahankan ventilasi mekanik
R/terjadinya kegagalan nafas yang akan datang memerlukan upaya penyelamatan hidup.























BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN
Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal. Penyebab dari atelektasis bisa bersifat obstruktif maupun non-obstruktif.Penyebab obstruktif bisa berasal dari dalam saluran pernafasan maupun dari luar saluran pernafasan. Sedangkan penyebab non-obstruktif bisa disebabkan oleh adanya kompresi jaringan paru atau pengembangan alveoli yang tidak sempurna dan akhirnya mengalami kolaps.
Diagnosa atelektasis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan fisis. Secara radiograf akan menunjukkan suatu bayangan yang homogen dengan tanda pengempisan lobus.


















DAFTAR PUSTAKA


2.      Simon, G. Diagnostik Rontgen untuk Mahasiswa Klinik dan Dokter Umum. Edisi kedua. Jakarta : Penerbit Erlangga, 1981 : 275
3.      http : // www.medicastore.com/med/detail
4.      SEMA FK-UNAIR, SIE BURSA. KUMPULAN KULIAH RADIOLOGI I. Surabaya : LAB/UPF Radiologi RSUD dr. Soetomo : 20-21.
5.      Harrison. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Volume3. Yogyakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1995 : 1287
6.      Palmer, P.E.S. Petunjuk Membaca Foto Untuk Doker Umum. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1995 : 45-50









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar